Oleh: Nur Achmad, S.Ag., MA.
(Dosen ITB Ahmad Dahlan Jakarta & Pengasuh Ponpes MBS Ki Bagus Hadikusumo)
- PENDAHULUAN
Islam agama yang menjunjung tinggi harkat kemanusiaan[1] atas dasar monoteisme (tauhid), keadilan[2] dan kasih sayang[3]. Semua ajaran dalam Islam senantiasa menjunjung tinggi prinsip-prinsip tersebut dan mencegah terjadinya praktik-praktik yang bertentangan dengannya. Karena itu, menurut Ibnu Qayyim (w. 751 H) bahwa setiap terjadi paham/keyakinan atau tindakan yang keluar dari keadilan (al-โadl) menuju kesewenang-wenangan (al-jawr), dari kasih sayang (al-rah}mah) menuju sebaliknya, dan dari maslahat menuju kerusakan (al-mafsada>t), serta dari hikmah (al-h}ikmah) menuju kesia-siaan (al-โabath), maka bukanlah bagian dari syariah agama (fa laysat min al-syari>โah)[4] sehingga pasti ditolak dan diluruskan oleh Al-Quran dan Sunnah.
Demikian pula dengan praktik diskriminasi dan ketidakadilan yang terjadi saat Al-Quran turun atau saat Rasulullah hidup disikapi oleh wahyu-wahyu yang turun. Al-Quran mengabadikan catatan kritik atas tradisi dan keyakinan Arab Jahiliah yang mendiskriminasi dan melanggengkan ketidakadilan kepada kaum perempuan, antara lain dalam ayat berikut:
ููุฅูุฐูุง ุจูุดููุฑู ุฃูุญูุฏูููู ู ุจูุงููุฃูููุซูู ุธูููู ููุฌููููู ู ูุณูููุฏููุง ูููููู ููุธููู ู (58) ููุชูููุงุฑูู ู ููู ุงููููููู ู ู ููู ุณููุกู ู ูุง ุจูุดููุฑู ุจููู ุฃูููู ูุณููููู ุนูููู ููููู ุฃูู ู ููุฏูุณูููู ููู ุงูุชููุฑูุงุจู ุฃูููุง ุณูุงุกู ู ูุง ููุญูููู ูููู (59)
Artinya: Dan jika salah satu dari mereka (Arab Jahiliah) diberi kabar gembira lahirnya bayi perempuan, wajahnya menjadi hitam karena menahan sedih dan murung. Ia bersembunyi-sembunyi dari kaumnya karena buruknya berita yang diterimanya, apakah ia akan membiarkan bayi perempuannya hidup di atas kehinaan ataukah akan menguburkannya (hidup-hidup) ke dalam tanah? Ingatlah, sungguh sangat buruk apa yang mereka putuskan.[5]
Al-Quran juga menggugat tradisi pembunuhan bayi-bayi perempuan yang telah menjadi pemandangan umum yang diskriminatif kala itu. Ini diabadikan dengan redaksi ayat pendek penuh tanya:
ููุฅูุฐูุง ุงููู ูููุกููุฏูุฉู ุณูุฆูููุชู (8) ุจูุฃูููู ุฐูููุจู ููุชูููุชู (9)
Artinya: Dan Apabila, bayi perempuan yang dukbur hidup-hidup ditanya. Atas salah apa, ia dibunuh? [6]
Tampaknya tradisi Jahiliah yang banyak menindas perempuan tersebut masih tersisa dalam adat dan keyakinan masyarakat berikutnya, walaupun kehadiran Nabi Muhammad SAW. sangat jelas melakukan pelurusan atas pandangan diskriminatif tersebut dan sangat jelas pula pembelaannya terhadap perempuan melalui ayat-ayat dan hadis tentang persamaan derajat. Salah satu yang menegaskan eksistensi dan peran perempuan adalah ayat berikut:
ู ููู ุนูู ููู ุตูุงููุญูุง ู ููู ุฐูููุฑู ุฃููู ุฃูููุซูู ูููููู ู ูุคูู ููู ููููููุญูููููููููู ุญูููุงุฉู ุทููููุจูุฉู ููููููุฌูุฒููููููููู ู ุฃูุฌูุฑูููู ู ุจูุฃูุญูุณููู ู ูุง ููุงูููุง ููุนูู ูููููู (97)
Artinya: Siapa saja yang beramal salih, laki-laki atau perempuan, sedang dia mukmin, maka sungguh Kami pasti memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh Kami pasti memberikan balasan pahala mereka dengan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.[7]
Demikian pula penegasan tersebut dinyatakan dalam ayat lain:
ู ููู ุนูู ููู ุณููููุฆูุฉู ููููุง ููุฌูุฒูู ุฅููููุง ู ูุซูููููุง ููู ููู ุนูู ููู ุตูุงููุญูุง ู ููู ุฐูููุฑู ุฃููู ุฃูููุซูู ูููููู ู ูุคูู ููู ููุฃููููุฆููู ููุฏูุฎูููููู ุงููุฌููููุฉู ููุฑูุฒูููููู ูููููุง ุจูุบูููุฑู ุญูุณูุงุจู
Artinya: Siapa saja yang berbuat buruk maka tidak dibalas selain yang setimpal dengan keurukan tersebut dan siapa saja yang beramal salih, laki-laki atau perempuan, dalam keadaan beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga serta diberi rizki di dalamnya tanpa hitungan.[8]
Pandangan dan tradisi diskriminatif Arab Jahiliah inilah yang kerap kali menjadi faktor mengapa muncul pemahaman-pemahaman yang sering dianggap ajaran agama, namun sebenarnya hanyalah tradisi jahiliah yang sudah usang dan harus diluruskan karena diyakini bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan nilai-nilai keadilan, kemuliaan manusia, kesederajatan kemanusiaan di hadapan Allah, dan nilai kasih sayang dengan sejumlah ayat dan hadisnya.
Pertanyaanya, bagaimana jika ditemukan teks-teks keagamaan yang bias dengan budaya jahiliah diskriminatif dan cenderung memandang rendah terhadap perempuan serta hanya mengunggulkan pihak laki-laki? Apakah teks tersebut dapat diterima sebagai ajaran agama secara apa adanya? Ataukah diterima dengan interpretasi ulang berperspektif kesetaraan dan keadilan? Atau bahkan ditolak, jika benar-benar bertentangan dengan Al-Quran, hadis yang lebih kuat, logika akal sehat, dan realitas sejarah yang sudah tidak terbantahkan?
Pertanyaan ini perlu diajukan karena ajaran Islam tidak lah mungkin bertentangan satu sama lainnya. Pertanyaan demikian muncul karena Islam diyakini sebagai agama keadilan dan tidak mungkin merendahkan perempuan. Diyakini pula bahwa kehadiran Rasulullah SAW. sebagai teladan untuk melakukan revolusi intelektual dan sosial guna membela kaum tertindas, termasuk kaum perempuan yang berabad-abad sebelumnya ditindas oleh tradisi jahiliah.
Salah satu teks keagamaan yang perlu dikaji kembali adalah hadis tentang kesialan itu ada pada perempuan, kuda, dan rumah. Tulisan ini akan membahas kajian kritik matan hadis tentang kesialan pada yang tiga. Hadis ini banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis populer dan karenanya banyak menjadi dalil bagi sebagian kalangan untuk menguatkan pandangan yang merendahkan/diskriminatif terhadap kaum perempuan.
Tulisan berikut akan menganalisis kualitas matan hadis tentang kesialan terdapat pada tiga hal; perempuan, rumah, dan kuda. Hadis tentang syuโm (kesialan) ini, walaupun terdapat juga dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang secara sanad dinilai sah}i>h} (valid), namun masih perlu diteliti lebih lanjut status matannya. Apakah jika sanad (rangkaian periwayat) suatu hadis telah dinyatakan sahih, matannya juga otomatis sahih? Bagaimana menyikapi hadis tersebut? Bagaimana pendapat para ahli tentangnya?
- PEMBAHASAN
B.1. Teks Hadis
Hadis ini cukup populer karena diriwayatkan oleh sejumlah ahli hadis kenamaan, termasuk Imam Bukhari dan Muslim. Sejumlah perawi yang meriwayatkan hadis syuโm ini, yaitu:
B.1.1. Riwayat Bukhari
Bukhari meriwayatkan hadis Syuโm ini dari jalaur Ibn โUmar, Sahl ibn Saโd sebagai berikut:
ุญูุฏููุซูููุง ุฃูุจูู ุงููููู ูุงูู ุ ุฃูุฎูุจูุฑูููุง ุดูุนูููุจู ุ ุนููู ุงูุฒููููุฑูููู ุ ููุงูู : ุฃูุฎูุจูุฑูููู ุณูุงููู ู ุจููู ุนูุจูุฏู ุงูููู ุฃูููู ุนูุจูุฏู ุงูููู ุจููู ุนูู ูุฑู ุ ุฑูุถููู ุงูููููู ุนูููููู ูุง ุ ููุงูู : ุณูู ูุนูุชู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ููููููู ุฅููููู ูุง ุงูุดููุคูู ู ููู ุซููุงูุซูุฉู ููู ุงููููุฑูุณู ููุงููู ูุฑูุฃูุฉู ููุงูุฏููุงุฑ.
Artinya: Abu> al-Yama>n menceritakan hadis kepada kami, Syuโaib mengabarkan hadis kepada kami, dari al-Zuhri>, ia berkata: Sa>lim bin Abdilla>h telah mengabarkan kepadaku bahwa Abdulla>h ibn โUmar RA. berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: โKesialan itu hanyalah pada tiga; kuda, perempuan, dan rumah.โ [9]
ุญูุฏููุซูููุง ุนูุจูุฏู ุงูููู ุจููู ู ูุณูููู ูุฉู ุ ุนููู ู ูุงูููู ุ ุนููู ุฃูุจูู ุญูุงุฒูู ู ุจููู ุฏููููุงุฑู ุนููู ุณููููู ุจููู ุณูุนูุฏู ุงูุณููุงุนูุฏูููู ุ ุฑูุถููู ุงูููููู ุนููููู ุ ุฃูููู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ููุงูู : ุฅููู ููุงูู ููู ุดูููุกู ููููู ุงููู ูุฑูุฃูุฉู ููุงููููุฑูุณู ููุงููู ูุณููููู.
Artinya: Abdulla>h ibn Maslamah telah menceritakan kepada kami, dari Ma>lik, dari Abi H{a>zim ibn Di>na>r, dari Sahl ibn Saโd al-Sa>โidi> RA. sungguh Rasulullah SAW bersabda: โJika (kesialan itu) ada pada sesuatu, maka terdapat pada perempuan, kuda, dan rumah.โ [10]
ุญูุฏููุซูููู ุนูุจูุฏู ุงูููู ุจููู ู ูุญูู ููุฏู ุ ุญูุฏููุซูููุง ุนูุซูู ูุงูู ุจููู ุนูู ูุฑู ุ ุญูุฏููุซูููุง ูููููุณู ุ ุนููู ุงูุฒููููุฑูููู ุ ุนููู ุณูุงููู ู ุ ุนููู ุงุจููู ุนูู ูุฑู ุ ุฑูุถููู ุงูููููู ุนูููููู ูุง ุฃูููู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ููุงูู : ูุงูู ุนูุฏูููู ุ ูููุงู ุทูููุฑูุฉู ููุงูุดููุคูู ู ููู ุซููุงูุซู ููู ุงููู ูุฑูุฃูุฉู ููุงูุฏููุงุฑู ููุงูุฏููุงุจููุฉู.
Artinya: Abdulla>h ibn Muhammad telah bercerita kepada kami, Usman ibn Umar telah bercerita kepada kami, Yunus telag bercerita kepada kami, dari al-Zuhri, dari Sa>lim, dari (โAbdulla>h) Ibn โUmar, bahwa Rasulullah SAW. bersabda: โTidak ada โAdwa>, tidak ada t}iyarah. Kesialan itu ada pada tiga; perempuan, rumah, dan binatang (tunggangan).โ[11]
B.1.2. Riwayat Muslim
Imam Muslim juga meriwayatkan hadis syuโm ini dari jalur Ibn โUmar,
ููุญูุฏููุซูููุง ุฃูุจูู ุงูุทููุงููุฑู ููุญูุฑูู ูููุฉู ุจููู ููุญูููู ููุงูุงู ุฃูุฎูุจูุฑูููุง ุงุจููู ููููุจู ุฃูุฎูุจูุฑูููู ูููููุณู ุนููู ุงุจููู ุดูููุงุจู ุนููู ุญูู ูุฒูุฉู ููุณูุงููู ู ุงุจููููู ุนูุจูุฏู ุงูููููู ุจููู ุนูู ูุฑู ุนููู ุนูุจูุฏู ุงูููููู ุจููู ุนูู ูุฑู ุฃูููู ุฑูุณูููู ุงูููููู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู - ููุงูู ยซ ูุงู ุนูุฏูููู ูููุงู ุทูููุฑูุฉู ููุฅููููู ูุง ุงูุดููุคูู ู ููู ุซููุงูุซูุฉู ุงููู ูุฑูุฃูุฉู ููุงููููุฑูุณู ููุงูุฏููุงุฑู ยป.
Artinya: Abu al-Tahir dan Harmalah ibn Yahya telah menceritakan kepada kami, keduanya berkata bahwa Ibn Wahb telah mengabarkan kepada kami, Ibnu Yunus telah mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Sihab, dari Hamzah dan Salim, keduanya anak โAbdullah ibn โUmar, dari โAbdullah ibn Umar, bahwa Rasulullah SAW. bersabda: Tidak ada โAdwa>, tidak ada t}iyarah[12], kesialan hanyalah ada pada yang tiga; perempuan, kuda, dan rumah.โ [13]
Muslim juga meriwayatkan dari jalur Sahl ibn Saโd, berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda: โJika (kesialan itu) ada, maka pada perempuan, kuda, dan rumahโ.[14]
B.1.3. Riwayat Tirmizi
Imam Tirmizi meriwayatkan hadis ini dari jalur Ibnu Umar, Sahl ibn Saโd, Anas, dan Aisyah RA., namun riwayat Aisyah yang diriwayatkan di Sunan Tirmizi ini juga tidak lengkap karena tidak menyatakan penggalan awal hadis.
ุญุฏุซูุง ุงุจู ุฃุจู ุนู ุฑ ุญุฏุซูุง ุณููุงู ุนู ุงูุฒูุฑู ุนู ุณุงูู ู ุญู ุฒุฉ ุงุจูู ุนุจุฏ ุงููู ุจู ุนู ุฑ ุนู ุฃุจููู ุง : ุฃู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู ูุงู ุงูุดุคู ูู ุซูุงุซุฉ ูู ุงูู ุฑุฃุฉ ูุงูู ุณูู ูุงูุฏุงุจุฉ
Artinya: Ibnu Abi> โUmar telah menceritakan kepada kami, S{ufya>n telah menceritakan kepada kami, dari al-Zuhri>, dari Sa>lim dan H{amzah, keduanya anak Abdulla>h ibn โUmar, dari bapaknya, bahwa Rasulullah bersabda: โKesialan itu terdapat pada tiga; perempuan, rumah, dan binatang kendaraanโ.[15]
Tirmizi juga meriwayatkan dalam bab ini dari Sahl ibn Saโd dan โAisyah serta Anas. Ia berkata dan telah diriwayatkan dari Nabi SAW.: โJika ada kesialan pada sesuatu, maka itu terdapat pada perempuan, binatang tunggangan, dan rumahโ.[16]
B.1.4. Riwayat Nasaโi
Imam NasaโI juga meriwayatkan hadis ini dari Salim, dari Ibnu โUmar, sebagai berikut:
ุฃุฎุจุฑูุง ูุชูุจุฉ ุจู ุณุนูุฏ ูู ุญู ุฏ ุจู ู ูุตูุฑ ูุงูููุธ ูู ูุงูุง ุญุฏุซูุง ุณููุงู ุนู ุงูุฒูุฑู ุนู ุณุงูู ุนู ุฃุจูู ุนู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู ูุงู : ุงูุดุคู ูู ุซูุงุซุฉ ุงูู ุฑุฃุฉ ูุงููุฑุณ ูุงูุฏุงุฑ
Artinya: Qutaibah ibn Saโid dan Muhammad ibn Mansur telah mengabarkan kepada kami (dengan lafaznya ibn Mansur), keduanya berkata Sufya>n telah menceriatakan kepada kami, dari al-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya (โAbdullah ibn โUmar), dari Nabi SAW. bersabda: โKesialan itu pada tiga; perempuan, kuda, dan rumah.โ[17]
ุฃูุฎูุจูุฑูููู ู ูุญูู ููุฏู ุจููู ุฌูุจูููุฉู ุ ููุงูู : ุญูุฏููุซูููุง ุนูุจูุฏู ุงูููู ุจููู ุฌูุนูููุฑู ุ ููุงูู : ุญูุฏููุซูููุง ุนูุจูููุฏู ุงูููู ุ ุนููู ุฅูุณูุญูุงูู ุ ุนููู ุงูุฒููููุฑูููู ุ ุนููู ุญูู ูุฒูุฉู ุจููู ุนูุจูุฏู ุงูููู ุ ุนููู ุฃูุจูููู ุ ุฃูููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุงูู : ุงูุดููุคูู ู ููู ุซููุงูุซูุฉู ููู : ุงููู ูุณููููู ุ ููุงููููุฑูุณู ุ ููุงููู ูุฑูุฃูุฉู
Artinya: Muhammad ibn Jabalah berkata: Abdullah ibn Jaโfar telah menceritakan kepada kami, โUbaidullah telah menceritakan kepada kami, dari Ishak, dari al-Zuhri, dari Hamzah ibn Abdillah, dari ayahnya, bahwa Nabi SAW. bersabda: โKesialan itu ada pada tiga; rumah, kuda, dan perempuan.โ[18]
B.1.5. Riwayat Ahmad
Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara lengkap dari awal hingga akhir dari โAisyah RA., dari Nabi Muhammad SAW. Riwayat ini sekaligus membantah riwayat lain yang tidak lengkap dan tidak valid penukilannya. Sebagai berikut:
ุญุฏุซูุง ุนุจุฏ ุงููู ุญุฏุซูู ุฃุจู ุซูุง ุจูุฒ ุซูุง ูู ุงู ุงูุง ูุชุงุฏุฉ ุนู ุฃุจู ุญุณุงู ุงู ุฑุฌูุง ูุงู ูุนุงุฆุดุฉ ุงู ุฃุจุง ูุฑูุฑุฉ ูุญุฏุซ ุงู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู ูุงู : ุงู ุงูุทูุฑุฉ ูู ุงูู ุฑุฃุฉ ูุงูุฏุงุฑ ูุงูุฏุงุจุฉ ูุบุถุจุช ุบุถุจุง ุดุฏูุฏุง ูุทุงุฑุช ุดูุฉ ู ููุง ูู ุงูุณู ุงุก ูุดูุฉ ูู ุงูุฃุฑุถ ููุงูุช ุฅูู ุง ูุงู ุฃูู ุงูุฌุงูููุฉ ูุชุทูุฑูู ู ู ุฐูู )ุชุนููู ุดุนูุจ ุงูุฃุฑูุคูุท : ุฅุณูุงุฏู ุตุญูุญ ุนูู ุดุฑุท ู ุณูู (
Artinya: Abdullah menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Bahz telah menceritakan kepada kami, Hammam telah menceritakan kepada kami, Qatadah telah mengabarkan kepada kami dari Abi Hasan, sungguh ada seseorang berkata kepada Aisyah RA. bahwa Abu Hurairah RA. menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: โSungguh kesialan itu ada pada perempuan, rumah, dan binatang (tunggangan)โ, maka Aisyah marah sekali hingga melotot ke atas dan ke tanah/bawah, kemudian berkata: โHanyalah orangโorang Jahiliah yang biasa berfirasat sial seperti itu.โ [19]
Ahmad juga meriwayatkan hadis ini dari Aisyah RA. yang berisi sanggahan terhadap apa yang disampaikan oleh sahabat-sahabat yang lain, sebagai berikut:
ุญุฏุซูุง ุนุจุฏ ุงููู ุญุฏุซูู ุฃุจู ุซูุง ูุฒูุฏ ูุงู ุฃูุง ูู ุงู ุจู ูุญูู ุนู ูุชุงุฏุฉ ุนู ุฃุจู ุญุณุงู ูุงู ุฏุฎู ุฑุฌูุงู ู ู ุจูู ุนุงู ุฑ ุนูู ุนุงุฆุดุฉ ูุฃุฎุจุฑุงูุง ุงู ุฃุจุง ูุฑูุฑุฉ ูุญุฏุซ ุนู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู ุงูู ูุงู : ุงูุทูุฑุฉ ู ู ุงูุฏุงุฑ ูุงูู ุฑุฃุฉ ูุงููุฑุณ ูุบุถุจุช ูุทุงุฑุช ุดูุฉ ู ููุง ูู ุงูุณู ุงุก ูุดูุฉ ูู ุงูุฃุฑุถ ููุงูุช ูุงูุฐู ุฃูุฒู ุงููุฑูุงู ุนูู ู ุญู ุฏ ู ุง ูุงููุง ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู ูุท ุฅูู ุง ูุงู ูุงู ุฃูู ุงูุฌุงูููุฉ ูุชุทูุฑูู ู ู ุฐูู )ุชุนููู ุดุนูุจ ุงูุฃุฑูุคูุท : ุฅุณูุงุฏู ุตุญูุญ ุนูู ุดุฑุท ู ุณูู (
Artinya: Abdullah menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Yazid telah menceritakan kepada kami, Hammam ibn Yahya telah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Abi Hasan, berkata ada dua orang dari Bani Amir ke rumah Aisyah, kemudian keduanya berkata kepada Aisyah RA. bahwa Abu Hurairah RA. menceritakan hadis dari Nabi SAW. bersabda: โKesialan itu ada pada rumah, perempuan, dan kudaโ, maka Aisyah marah sekali hingga pandangannya ke atas dan ke bawah, kemudian berkata: โDemi Zat Yang Menurunkan al-Furqan kepada (Nabi) Muhammad, Rasulullah SAW. tidak pernah mengatakan hal itu sama sekali. Beliau hanya berkata: โOrang-orang Jahiliah berfirasat sial seperti itu.โ[20]
Menurut penelitian al-Arnaโuth, isna>d (rangkaian periwayat) hadis ini sahih sesuai persyaratan Imam Muslim.
B.1.6. Riwayat Abu Da>wu>d al-T{aya>lisi>
Abu> Da>wu>d al-T{aya>lisi> (bukan Abu> Da>wu>d al-Sa>jistani>) meriwayatkan hadis ini dalam Musnadnya secara lengkap baik dari versi riwayat Ibnu Umar maupun Aisyah RA. sebagai berikut:
ุญุฏุซูุง ุฃุจู ุฏุงูุฏ ูุงู : ุญุฏุซูุง ุนุจุฏ ุงููู ุจู ุจุฏูู ุ ุนู ุงูุฒูุฑู ุ ุนู ุณุงูู ุ ุนู ุงุจู ุนู ุฑ ุ ูุงู : ูุงู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู : ยซ ุงูุดุคู ูู ุซูุงุซุฉ ุ ูู ุงูุฏุงุฑ ูุงูู ุฑุฃุฉ ูุงููุฑุณ ยป
Artinya: Abu> Da>wu>d telah menceritakan kepada kami, ia berkata: โAbdulla>h ibn Budayl menceritakan kepada kami, dari al-Zuhri>, dari Sa>lim, dari Ibnu โUmar, berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda: โKesialan itu ada pada tiga; rumah, perempuan, dan kuda.โ [21]
ุญุฏุซูุง ุฃุจู ุฏุงูุฏ ูุงู : ุญุฏุซูุง ู ุญู ุฏ ุจู ุฑุงุดุฏ ุ ุนู ู ูุญูู ุ ููู ูุนุงุฆุดุฉ ุฅู ุฃุจุง ูุฑูุฑุฉ ุ ูููู : ูุงู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู : ยซ ุงูุดุคู ูู ุซูุงุซุฉ : ูู ุงูุฏุงุฑ ูุงูู ุฑุฃุฉ ูุงููุณ ยป ููุงูุช ุนุงุฆุดุฉ : ูู ูุญูุธ ุฃุจู ูุฑูุฑุฉ ูุฃูู ุฏุฎู ูุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุ ูููู : ยซ ูุงุชู ุงููู ุงููููุฏ ุ ูููููู ุฅู ุงูุดุคู ูู ุซูุงุซุฉ : ูู ุงูุฏุงุฑ ูุงูู ุฑุฃุฉ ูุงููุฑุณ ยป ูุณู ุน ุขุฎุฑ ุงูุญุฏูุซ ููู ูุณู ุน ุฃููู.
Artinya: Abu Dawud telah menceritakan kepada kami, ia berkata Muhammad ibn Rasyid telah menceritakan kepada kami, dari Makh}ul, dikatakan kepada Aisyah RA. bahwa Abu Hurairah berkata: Rasulullah SAW. telah bersabda: โKesialan itu pada tiga hal; rumah, perempuan, dan kudaโ. Seraya Aisyah berkata: โAbu Hurairah tidak hafal (hadis itu) karena ia masuk (tapi terlambat) sedang Rasulullah SAW. bersabda: โAllah memusuhi kaum Yahudi, mereka berkeyakinan bahwa kesialan itu pada tiga hal; rumah, perempuan, dan kudaโ. Abu Hurairah hanya mendengar bagian akhir hadis, tidak mendengar awalnya.[22]
Dan beberapa periwayat lain yang menuturkan hadis semakna di atas.
B.2. Kandungan Hadis
Hadis tentang syuโm ini mengandung pesan bahwa seseorang boleh merasa ada kesialan pada tiga hal tersebut, yaitu perempuan, rumah, dan kuda. Ini jika disimpulkan dari penggalan akhir hadis: โKesialan ada pada tiga hal; perempuan, rumah, dan kudaโ. Namun jika mengikuti riwayat Aisyah RA yang disambungkan dengan penggalan awalnya yaitu: Ka>na ahlu al-ja>hiliyyah yaqu>lu>na al-Syuโmu (al-T{iyaratu) fi al-marโah wa al-da>bbah wa l-da>rโ [23] (Orang-orang Jahiliah berkata bahwa kesialan itu ada pada perempuan, binatang tunggangan, dan rumahโ, maka hadis ini mengandung pesan bahwa hanya Kaum Jahiliah yang memiliki keyakinan bahwa kesialan itu dalam tiga hal tersebut. Ini artinya, seorang mukmin tidak dibenarkan memiliki sikap bahwa kesialan itu ada pada tiga dan seterusnya. Hal demikian dilarang oleh Rasulullah dalam hadis lain bahwa orang yang tidak melakukan tat}ayyur atau tidak percaya pada t}iyarah dan senantiasa bertawakkal kepada Allah akan masuk surga tanpa dihisab.[24]
T{iyarah, bentuk mas}dar dari tat}ayyara, dalam hadis di atas adalah istilah orang Arab Jahiliah yang menunjukkan pada salah satu jenis sihir atau yang menyerupai itu. Sementara menurut al-As}maโi> seperti dikuti al-Nawawi>, t}iyarah adalah sesuatu seperti jampi-jampi atau suwuk yang membuat perempuan tergila-gila pada suaminya.[25] Masih dalam al-Nawawi yang mengutip pendapat al-Khat}t}a>bi> dan yang lainnya bahwa t}iyarah itu dilarang kecuali terhadap tiga hal yaitu rumah yang tidak nyaman dihuni, perempuan yang tidak disukai pergaulannya, dan kuda yang tidak bisa diajak berperang di jalan Allah.[26]
Ada sebagian pendapat yang diduga kuat tidak mendapat informasi lengkap tentang penolakan oleh Aisyah RA. menyatakan bahwa yang dimaksud sialnya perempuan adalah kemandulannya, sialnya kuda adalah yang tidak digunakan untuk perang di jalan Allah, dan sialnya rumah adalah yang tetangganya berperangai buruk.[27]
B.3. Analisis Matan Hadis
Dalam kajian ilmu hadis, jika ada riwayat yang matannya bertentangan dengan ayat Al-Quran, riwayat hadis yang lebih kuat, logika akal sehat, dan sejarah yang sudah dipastikan kebenarannya, maka riwayat yang demikian tertolak atau gugur, walaupun memiliki sanad yang sahih.[28]
Karenanya, al-Dami>ni> menyatakan bahwa para ahli hadis menetapkan kaidah: Laysa kulla ma> s}ah}h}a isna>duhu s}ah}h}a matnuhu (Tidak setiap hadis yang sahih sanadnya, sahih pula matannya).[29] Ibnu Qayyim (w. 751), sebagaimana dikutip oleh al-Damini, menyatakan bahwa sahihnya isna>d merupakan salah satu syarat sahihnya hadis, namun tidak selalu demikian, karena sahihnya hadis harus memenuhi semua persyaratan, yaitu: sanadnya sahih, bebas dari โillat/cacat, bebas dari syazz/kelemahan dan keganjilan (naka>rah), dan juga tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang thiqa>t (terpercaya).[30]
Hadis tersebut membawa kesan kuat pandangan diskriminatif terhadap kaum perempuan bahwa perempuan (yang disejajarkan dengan rumah serta kuda) membawa kesialan bagi manusia (yakni, manusia laki-laki). Riwayat yang disandarkan oleh sementara perawi kepada Nabi SAW., padahal Nabi tidak mungkin mengajarkan sesuatu yang salah atau bertentangan dengan Al-Quran, inilah yang mendorong Aisyah melakukan penolakan. Penegasan Aisyah RA bahwa hal demikian (kesialan) itu dikatakan oleh Ahlu al-Ja>hiliyyah (dalam satu riwayat)[31] atau al-Yahu>d (dalam riwayat lain).[32] Jabi bukan Nabi SAW yang menyatakan, karena Nabi hanya mengungkap paham jahiliah atau Yahudi dan bermaksud meluruskannya.
Aisyah RA., sebagai seorang perempuan (istri dan sahabat Nabi) yang termasuk paling banyak mengetahui dan menghafal hadis Nabi, ketika mendengar seseorang menyampaikan riwayat tersebut langsung menolaknya, bahkan menampakkan kemarahan yang luar biasa. Pandangan yang diskriminatif tersebut tidak mungkin disampaikan oleh Rasulullah SAW. Seperti ditegaskan dalam riwayat Ahmad dan al-T{aya>lisi> dinyatakan bahwa Abu Hurairah tidak lengkap dalam meriwayatkan hadis tersebut yang semestinya ada pernyataan di awal (Kaum Jahiliah atau Kaum Yahudi memiliki keyakinan bahwa) kesialan itu ada pada perempuan, rumah, dan kuda. Sebenarnya pandangan Kaum Yahudi atau Kaum Jahiliah inilah yang hendak diluruskan oleh Rasulullah SAW.
Imam Ibn Qutaybah (w. 276) [33], yang juga dikutip oleh S{ala>h}uddi>n al-Adlabi[34], meriwayatkan hal yang sama dengan Imam Ahmad tentang penolakan โAisyah RA. atas hadis yang menyatakan kesialan ada pada perempuan, rumah dan kuda tersebut dengan menambahkan pernyataan bahwa โAisyah menggunakan ayat 22 Surat Al-H{adi>d sebagai dasar penolakan. Ayat itu berbunyi:
ู ูุง ุฃูุตูุงุจู ู ููู ู ูุตููุจูุฉู ููู ุงููุฃูุฑูุถู ููููุง ููู ุฃูููููุณูููู ู ุฅููููุง ููู ููุชูุงุจู ู ููู ููุจููู ุฃููู ููุจูุฑูุฃูููุง ุฅูููู ุฐููููู ุนูููู ุงูููููู ููุณููุฑู
Artinya: Tidak ada kejadian di Bumi dan juga di dalam dirimu, kecuali telah terdapat di dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menjadikannya. Sungguh hal itu mudah bagi Allah.
Begitu juga Imam al-Zarkasyi (w. 794) dalam Ijabah[35], yang juga dikutip S{alah}uddi>n al-Adlabi>,[36] menguatkan penolakan Aisyah RA. karena memang ber-tat}ayyur itu dibenci dan tidak dibenarkan dalam Islam dengan mengungkapkan hadis Nabi SAW. yang memuji orang yang tidak ber-tat}ayyur (meyakini adanya t}iyarah) dan selalu bertawakkal kepada Allah akan masuk surga tanpa dihisab bersama 70 ribu orang lainnya. Riwayat โAisyah yang menolak hadis syuโm ini lebih mendekati kebenaran karena mengandung klarifikasi dan hal ini sesuai dengan larangan Nabi secara umum terhadap tat}ayyur/perasaan kesialan. [37]
Al-Mana>wi> dalam Fayd} al-Qadi>r menyebutkan bahwa hadis riwayat dari Ibnu โUmar tentang kesialan pada tiga di atas bertentangan dengan hadis riwayat Bayhaqi> dari Aisyah RA. yang menolak penggalan akhir hadis itu dengan membacakan ayat 22 Surat al-H{adi>d seperti yang disebutkan dalam riwayat Ahmad dan T{ayali>si>.[38]
Dalam Tafsir Ummu al-Muโminin Aisyah RA., Abdulla>h Abu> al-Suโu>d Badr menulis bahwa menurut riwayat Ahmad di atas, Aisyah RA. menolak penuturan Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW. bersabda โkemalangan itu ada pada perempuan, kuda, dan hunianโ, hingga Aisyah RA membacakan Surat al-H{adi>d ayat 22.[39] Ini menunjukkan bahwa berdasarkan ayat ini, Aisyah menolak semua keyakinan dan paham tentang kemalangan atau kesialan.
Dengan demikian riwayat hadis yang dinilai sahih secara sanad dalam banyak riwayat di atas, ditolak karena tidak sahih sebab periwayatnnya tidak lengkap. Rasulullah SAW. tidak pernah menyatakan hal demikian. Dalam kasus ini terjadi kekuranglengkapan atau ketidaksempurnaan pendengaran oleh perawi pertama dalam mengutip sabda Rasulullah. Dalam penuturan Aisyah RA., riwayat yang lebih kuat, Rasulullah SAW semula hanya menyinggung keyakinan kaum Jahiliah dan Kaum Yahudi yang memiliki pandangan tentang kesialan pada tiga hal di atas.
Dalam kajian hadis, jika terjadi pertentangan hadis dengan ayat al-Quran atau dengan riwayat hadis yang lebih kuat, maka riwayat yang lemah atau yang tidak lengkap harus ditinggalkan, meskipun sanadnya sahih, dan diambil yang lebih kuat atau lengkap. Dalam kasus hadis di atas adalah hadis riwayat Ahmad dan Abu Dawud al-Tayalisi dari Aisyah RA. dari Nabi SAW. dijadikan hujjah dan meninggalkan riwayat selain itu yang tidak lengkap, karena akan bertentangan dengan Al-Quran surat al-Hadid: 22 seperti yang telah disebutkan.
- PENUTUP
Kesimpulannya bahwa hadis tentang kesialan atau kemalangan pada perempuan, kuda, dan rumah yang diriwayatkan Ibnu โUmar dan Sahl ibn Saโd yang tidak utuh tersebut adalah sahih isnad, namun matannya mengandung kelemahan, karena tidak lengkap dalam penukilan hadis dari Rasulullah SAW. Karenanya hadis kesialan di atas tidak bisa dijadikan hujjah dalam agama sebab bertentangan dengan ayat Al-Quran dan hadis lain yang lebih lengkap dan kuat. Sedangkan hadis yang diriwayatkan Aisyah RA dari Nabi SAW bahwa penduduk Jahiliah dan Kaum Yahudi yang mengatakan bahwa kesialan ada pada perempuan, kuda, dan rumah adalah sahih sehingga bisa dijadikan hujjah.
DAFTAR PUSTAKA
Adlabi>, S{ala>h}uddin ibn Ah}mad al-, Manhaj Naqd al-Mutu>n โinda โUlama>โ al-H{adi>th al-Nabawi> (Beirut: Da>r al-A<fa>q al-Jadi>dah, 1983).
โAsqala>ni>, Ibn H{ajar al-. Fath}u al-Ba>ri> fi> Sharh} S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, Beirut: Da>r al-Fikr, t.th.
Badr, Abdulla>h Abu> Suโu>d, Tafsi>r Umm al-Muโminin Aisyah RA., (Terjemahan Ghazi Saloom dan Ahmad Syaiku), Jakarta: Serambi, 2000.
Bukha>ri>, Muh}ammad ibn Isma>โi>l ibn Ibra>hi>m al-, S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, Beirut: Da>r al-Kutub al-โIlmiyah, 2004.
Dami>ni>, Musfir โAzmulla>h al-, Maqa>yi>s Naqd Mutu>n al-Sunnah, Riyadh: 1404/1984.
Fayru>za>ba>di>, Majd al-Di>n Muh}ammad ibn Yaโqu>b al-, al-Qa>mu>s al-Muh{i>t}, Beirut: Da>r al-Fikr, 2005.
Ibn Manz}u>r, Jama>l al-Di>n Muh}ammad ibn Mukrim al-Afriqi> al-Mishri>. Lisa>n al-โArab. Kairo: Da>r al-Hadi>th, 2006.
Ibn Qayyim al-Jawziyah, Iโla>m al-Muwaqqiโi>n, Kairo: Mat}abiโ al-Islam, 1980, juz 3.
——-, al-Mana>r al-Muni>f fi> al-S{ah}i>h} wa al-D{aโi>f, Tah}qi>q โAbdu al-Fatta>h} Abu> Ghuddah, Riyad: Maktab al-Matbuโat al-Islamiyyah, 1389 H.
Ibn Qutaybah, Abdulla>h ibn Muslim, Taโwi>l Mukhtalaf al-H{adi>th, Beirut: dar al-Fikr, 1995.
Khair, โAbd al-Qadi>r โAbd al-, et.al., Sunan Abi> Da>wu>d: Sharh} wa Tah}qi>q โAbd al-Qadi>r โAbd al-Khair wa Sayyid Muh}ammad Sayyid wa Sayyid Ibrahim, Kairo: Da>r al-H{adi>th, 1999.
Mana>wi>, Muh}ammad โAbd al-Raโu>f al-. Fayd} al-Qadi>r Syarh} al-Jamiโ al-Saghi>r min Ah}a>di>th al-Basyi>r al-Nadhi>r. Beirut: Da>r al-Kutub al-โIlmiyah, 2006.
Muslim ibn H{ajja>j al-Qushairi> al-Naysa>bu>ri>, al-Ima>m Abu> al-H{asan, S{ah}i>h} Muslim, Beirut: Da>r al-Kutub al-โIlmiyah, 2003.
Nasaโi>, Abu> โAbd al-Rah}ma>n Ah}mad ibn Shuโayb ibn โAli> al-Khurasa>ni> al-, Sunan al-Nasaโi>, Beirut: Da>r al-Kutub al-โIlmiyah, 2005.
Nawawi, S{ah}i>h} Muslim bi Sharh} al-Nawawi>, Kairo: Muโassasah al-Mukhta>r, 2001.
Sa>jista>ni>, Abu> Da>wu>d Sulayma>n ibn al-Ashโath al-. Sunan Abi> Da>wu>d, (Tah}qi>q S{idqi> Muh}ammad Ja>mil). Beirut: Da>r al-Fikr, 2003.
Sya>t}ibi> Ibra>hi>m ibn Mu>sa> al-Lakhmi> al-Gharna>t}i> al-Ma>liki>, Abu> Ishaq al-. al-Muwa>faqa>t fi> Us}u>l al-Shari>โah. Beirut: Da>r al-Kutub al-โIlmiyah, 2005.
T{aya>lisi>, Musnad al-Tayalisi, Juz 3, 124. (Maktabah Syamilah) Al-Tayalisi, Musnad al-Tayalisi, Juz 3, (Maktabah Syamilah)
Tirmiลผi, Abu> โI<sa> Muh}ammad ibn โI<sa> ibn Saurah al-. Sunan al-Tirmidhi>, Beirut: Da>r al-Kutub al-โIlmiyah, 2003.
Winsink, A. J. al-Muโjam al-Mufahras li Alfa>z} al-Hadith al-Nabawi>. Leiden: Maktabah Brill, 1936.
Zarkasyi>, Badr al-Di>n, al-Ija>bah li I<ra>di ma> stadrakathu โA<isyah โala al-S{ah}a>bah, Beirut: al-maktab al-Islami, 1970.
[1] Antara lain dinyatakan dalam Qs. al-Tin/ : 4: ููููุฏู ุฎูููููููุง ุงููุฅูููุณูุงูู ููู ุฃูุญูุณููู ุชููููููู ู : ; QS. al-Israโ/17: ููููููุฏู ููุฑููู ูููุง ุจูููู ุขุฏูู ู ููุญูู ูููููุงููู ู ููู ุงููุจูุฑูู ููุงููุจูุญูุฑู ููุฑูุฒูููููุงููู ู ู ููู ุงูุทูููููุจูุงุชู ููููุถููููููุงููู ู ุนูููู ููุซููุฑู ู ูู ูููู ุฎูููููููุง ุชูููุถููููุง
[2] Antara lain dinyatakan dalam Qs. al-Nisaโ/4: 58: ุฅูููู ุงูููููู ููุฃูู ูุฑูููู ู ุฃููู ุชูุคูุฏูููุง ุงููุฃูู ูุงููุงุชู ุฅูููู ุฃูููููููุง ููุฅูุฐูุง ุญูููู ูุชูู ู ุจููููู ุงููููุงุณู ุฃููู ุชูุญูููู ููุง ุจูุงููุนูุฏููู ุฅูููู ุงูููููู ููุนูู ููุง ููุนูุธูููู ู ุจููู ุฅูููู ุงูููููู ููุงูู ุณูู ููุนูุง ุจูุตููุฑูุง
[3] Ditegaskan antara lain dalam Qs. al-Anbiyaโ: 107: ููู ูุง ุฃูุฑูุณูููููุงูู ุฅููููุง ุฑูุญูู ูุฉู ููููุนูุงููู ูููู.
[4] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Iโla>m al-Muwaqqiโi>n, (Kairo: Mat}abiโ al-Islam, 1980), juz 3, 3. Ibnu Qayyim menegaskan: ุงูุดุฑูุนุฉ ู ุจูุงูุง ูุงุณุงุณูุง ุนูู ุงูุญูู ูู ุตุงูุญ ุงูุนุจุงุฏ ูู ุงูู ุนุงุด ูุงูู ุนุงุฏ. ููู ุนุฏู ูููุง ูุฑุญู ุฉ ูููุง ูู ุตุงูุญ ูููุง ูุญูู ุฉ ูููุง , ููู ู ุณุฃูุฉ ุฎุฑุฌุช ุนู ุงูุนุฏู ุงูู ุงูุฌูุฑ ูุนู ุงูุฑุญู ุฉ ุงูู ุถุฏูุง ูุนู ุงูู ุตูุญุฉ ุงูู ุงูู ูุณุฏุฉ ูุนู ุงูุญูู ุฉ ุงูู ุงูุนุจุซ ูููุณุช ู ู ุงูุดุฑูุนุฉ ูุงู ุฃุฏุฎูุช ูููุง ุจุงูุชุฃูููโ.
[5] Qs. al-Nah}l: 58-59.
[6] Qs. al-Takwi>r: 8-9
[7] Qs. al-Nah}l: 98.
[8] Qs. Ghafir: 40.
[9] Imam al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Jiha>d wa al-Siyar, Bab Ma> Yuzkaru min Syuโmi al-Faras, no. 2858, (Beirut: Dar al-Kutub al-โIlmiyah, 2004), 526.
[10] Imam al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Jihad wa al-Sayr, Bab Ma Yuzkaru min Syuโmi al-Faras, no. 2859, 526.
[11] Imam al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Tibb, Bab al-Tiyarah, no. 5853, 1069-1079.
[12] Adwa> dan t}iyarah adalah ungkapan tentang kesialan dalam tradisi Arab Jahiliah.
[13] Muslim ibn H{ajja>j, S{ah}i>h} Muslim, Kita>b al-Sala>m, Ba>b al-T{iyarah wa al-Faโl wa Ma> yaku>nu fi>hi min al-Syuโmi, no. 2225, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2003), 878.
[14] Muslim ibn H{ajja>j, S{ah}i>h} Muslim, no. 2226, h. 879
[15] Abu Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah al-Tirmizi, Sunan al-Tirmizi wa huwa al-Ja>miโ al-S{ah}i>h}, Kita>b al-Adab, Ba>b Ma> Ja>โa fi> al-Syuโmi, Beirut: Dar al-Kutub al-โIlmiyah, 2003), 659.
[16] Al-Tirmizi, Sunan, Kita>b al-Adab, 659.
[17] Al-Nasaโi, Sunan al-Nasaโi, Kitab al-Khayl, Bab Syuโmu al-Khayl, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2005), 585.
[18] Al-NasaโI, Sunan al-Kubra li al-NasaโI, hadis nomor 9230-9234, juz 8, h. 305.
[19] Ahmad, Musnad Ahmad, Bab Hadis al-Sayyidah โAisyah RA., juz 6, 150. (Maktabah Syamilah)
[20] Ahmad, Musnad Ahmad, Bab Hadis al-Sayyidah โAisyah RA., juz 6, 240. (Maktabah Syamilah). Lihat juga Badr al-Din al-Zarkasyi, al-Ija>bah li I<ra>di ma> stadrakathu โA<isyah โala> al-S{ah}a>bah, Beirut: al-Maktab al-Islami, 1970), 115. Dalam al-Zarkasyi ini ada tambahan โAisyah menolak riwayat hadis dengan merujuk Surat Al-Hadid, ayat 22: Ma> as}a>ba min mus}i>batin fi al-ardhi wa la> fi> anfusikum illa> fi> kita>b min qabli an nabraโaha>โฆ(Tidak ada kejadian yang terjadi di Bumi dan juga di dalam diri kamu kecuali terdapat dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum hal itu Kami ciptakanโฆ)
[21] Abu> Da>wu>d al-T{aya>lisi>, Musnad al-T{aya>lisi>, Daru Hijr, juz 3, 362. (Maktabah Syamilah)
[22] Al-Tayalisi, Musnad al-T{aya>lisi>, Juz 3, 124. (Maktabah Syamilah)
[23] Sebagaimana dalam Riwayat Ah}mad dan al-T{aya>lisi> di atas yang kemudian dikutip oleh Ibnu Qutaybah, al-Dami>ni>, dan al-Adlabi>.
[24] Badr al-Di>n al-Zarkasyi>, al-Ija>bah, 115.
[25] Al-Nawawi>, S{ah}i>h} Muslim bi Sharh} al-Nawawi>, Kairo: Muโassasah al-Mukhta>r, 2001, jilid 7, juz 14, 230.
[26] Al-Nawawi>, Sharh} al-Nawawi>, 230-231.
[27] Badr al-Di>n al-Zarkasyi>, al-Ija>bah, 117. Lihat juga dalam al-Mana>wi>, Fayd} al-Qadi>r Sharah} al-Ja>miโ al-S{aghi>r, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2006., 710.
[28] Musfir โAzmulla>h al-Dami>ni>, Maqa>yi>s Naqd Mutu>n al-Sunnah (Riyadh: 1984), 61-108. Lihat juga Al-S{ala>h} al-Di>n al-Adlabi>, Manhaj Naqd al-Matn โinda โUlama> al-H{adi>th, 239, 273, 280.
[29] Musfir โAzmulla>h al-Dami>ni>, Maqa>yi>s Naqd Mutu>n al-Sunnah (Riyadh: 1984), 128
[30] Musfir โAzmulla>h al-Dami>ni>, Maqa>yi>s Naqd Mutu>n al-Sunnah (Riyadh: 1984), 128.
[31] Ahmad, Musnad Ahmad, Bab Hadis al-Sayyidah โAisyah RA., juz 6, 240. (Maktabah Syamilah). Lihat juga dalam Badr al-Din al-Zarkasyi, al-Ija>bah li I<ra>di ma> stadrakathu โA<isyah โala> al-S{ah}a>bah, 114.
[32] Al-Tayalisi, Musnad al-Tayalisi, Juz 3, 124. (Maktabah Syamilah).
[33] โAbdulla>h ibn Muslim ibnu Qutaybah, Taโwi>l Mukhtalaf al-H{adi>th (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), 99.
[34] S{ala>h}uddin ibn Ah}mad al-Adlabi>, Manhaj Naqd al-Mutu>n โinda โUlama>โ al-H{adi>th al-Nabawi> (Beirut: Da>r al-A<fa>q al-Jadi>dah, 1983), 123.
[35] Badru al-Din al-Zarkasyi, al-Ija>bah, 114-115.
[36] Sala>h}uddi>n ibn Ah}mad al-Adlabi>, Manhaj Naqd al-Mutu>n, 123.
[37] Badru al-Din al-Zarkasyi, al-Ija>bah, 115.
[38] Al-Mana>wi>, Fayd} al-Qadi>r Syarh} al-Ja>miโ al-S{aghi>r, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2006, jilid 2, 711.
[39] Abdulla>h Abu> al-Suโu>d Badr, Tafsi>r Ummi al-Muโmini>n โAisyah RA., (terj. Ghazi Saloom dan Ahmad Syaikhu), Jakarta: Serambi, 2000, 303.
